| Nama | Npm | Judul |
| Wini Rachmayuni | 170211070025 | PENEBANGAN HUTAN GLOBAL |
| Puji Rama | 170211070009 | Penggunaan Sumber Daya Alam untuk Kepentingan Hidup Manusia |
| EVALINA CHRISTINE SIMATUPANG | 170211070001 | Global-Globalisasi-Global WarmingMerupakan Sebuah Tanda dan Makna |
| YUNITA SARI | 170211080005 | PEMBALAKAN LIAR HUTAN-HUTAN DI INDONESIA |
| NANDISA PUSPITA UTARI | 170211080022 | DAMPAK BURUK FASTFOOD |
| Vera Yudiarti Juwita | 170211070007 | Diajukan untuk tugas Filsafat Ilmu |
| LISA HANDAYANI | 170211070018 | DAMPAK NUKLIR TERHADAP LINGKUNGAN |
| MHD ALHAFIZ | 170211070019 | SISTEM DAUR ULANG SAMPAH DAN AKIBAT DARI SAMPAH |
| AMIEN PRAHADIAN | 170211070008 | DAMPAK BURUK FAST FOOD |
| R. DZIKRY ALI | 170211070015 | Global Warming sebagai subjek ENVIRONTMENTALISME dalam kaitannya dengan GLOBALISASI |
| NISA ANISA | 170211070002 | “Peningkatan Budaya Konsumerisme Pembelian Kendaran Bermotor Akibat Pengaruh Globalisasi Ekonomi yang Memberikan Influence Negatif terhadap Lingkungan dan Kesehatan” |
| Agustin Indri Priyanti | 170211080007 | ”DAMPAK TERORISME TERHADAP LINGKUNGAN GLOBAL” |
| Feni Andriani Rianti | 170211080013 | INDUSTRI TELEVISI DAN DAMPAKNYA TERHADAP MUTU PENDIDIKAN |
| ASTRI SHERLEY KHARISMA | 170211080003 | DAMPAK KEMAJUAN TEKNOLOGI TERHADAP ASPEK LINGKUNGAN |
| WAHYU SUDARMADI | 170211080012 | DAMPAK KEMAJUAN TEKNOLOGI TERHADAP ASPEK LINGKUNGAN |
| Mada Prastya Pahlawan Mulya | 170211080017 | Penggunaan Sumber Daya Alam Untuk Kepentingan Hidup Manusia Sumber Daya Alam Minyak di Siberia dan kondisi Minyak di Indonesia |
| ROMAIDA LIDIA | 170211080002 | “ |
| TITA FARIDA | 170211080016 | DI BALIK REKLAMASI SINGAPURA |
| Dini Kristiyanti | 170211070006 | PEMBALAKAN LIAR HUTAN-HUTAN DI INDONESIA |
| Dicky Abdillah | 170211070017 | BAHAYA PELASTIK TERHADAP LINGKUNAN DAN PENGGANTINYA |
| ISNA DZIKRIYAH ZAHRA | 170211070023 | Dinamika Terorisme dan Pengaruhnya Terhadap Lingkungan Global |
| Kellis Mulya Nugraha | 170211080020 | Bahaya plastik bagi lingkungan dan solusi penggantinya |
| Deden Barqi Hakim | 170211080024 | “DAMPAK GLOBALISASI SERTA PERANAN NILAI KEARIFAN LOKAL TERHADAP EKSISTENSI KELESTARIAN TERUMBU KARANG” |
| Kalvin Marulitua | 170211080021 | DAMPAK ROKOK TERHADAP LINGKUNGAN |
| Merry Joan E. S | 170211070004 | Perburuan Bulu Binatang Demi Kepentingan Industri Fashion |
| ADISTY PUTRI JAYANTHI | 170211080004 | DIBALIK SUKSESNYA INDUSTRI TELEVISI SEBAGAI MEDIA INFORMASI |
| ERZICO | 170211080019 | PEMBURUAN BULU BINATANG DEMI MEWUJUDKAN KEPENTINGAN INDUSTRY FASHION |
| MIRA KHARISMA AYU | NPM. 170211080011 | Global-Globalisasi-Global Warming Merupakan Sebuah Tanda dan Makna |
| Dwi Rahayu Utami | 170211080014 | Dampak dan Penyebab Kebakaran Hutan Di Indonesia |
| Julianti Panjaitan | (170211080015) | “PLASTIK BAGI LINGKUNGAN DAN SOLUSI PENGGANTINYA” |
| | | |
| | | |
| | | |
| | | |
| | | |
| | | |
Jumat, 09 Januari 2009
Nama Pengirim Tugas Yang Sudah Diterima
Jumat, 19 Desember 2008
Fiqh ekologi: fiqih lingkungan hidup dalam al-quran dan as-sunnah (I)
Lingkungan merupakan sebuah kesatuan utuh dimana masing-masing komponennya memiliki peran penting untuk menggerakan rantai kehidupan agar berjalan seimbang dan teratur. Lingkungan terdiri atas unsur biotik (manusia, hewan, dan tumbuhan) dan abiotik (udara, air, tanah, iklim dan lainnya). Allah SWT berfirman :
“Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakannya pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezeki kepadanya.” (QS. 15 : 19-20)
Keseimbangan alam telah di ciptakan oleh Allah SWT dengan presisi yang sempurna kedalam ukuran-ukuran alam. Maka menjadi penting bagi manusia sebagai ”khalifatullah” untuk menjaga keberagamannya, kelestariannya serta keseimbangannya. Dalam hal ini, manusia memang memiliki peran penting, namun Allah mengingatkan manusia bahwa manusia bukan sekali-kali pemberi rezeki bagi lingkungan hidpnnya melainkan Allah SWT. Artinya, kita benar-benar diingatkan untuk tidak mengambil pendekatan antroposentris dimana fikiran manusia seakan-akan menjadi pusat segala ukuran dan manusialah yang menentukan nilai-nilai lingkungan hidupnya. Dalam konteks ini, pendekatan theosentris-lah yang diambil, dimana kebenaran-kebenaran nilai-nilai bagi mahkluknya beraslal dari tuhan yang dalam islam dapat di gali melalui teks-teks al-quran dan as-sunnah.
Lingkungan hidup sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan manusia guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Allah SWT berfirman :
“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya, dan makanlah sebagian dari rizki-Nya. Dan hanya kepada-Nya lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. 67 : 15)
Akan tetapi, lingkungan hidup sebagai sumber daya mempunyai regenerasi dan asimilasi yang terbatas. Selama eksploitasi atau penggunaannya di bawah batas daya regenerasi atau asimilasi, maka sumber daya terbaharui dapat digunakan secara lestari. Akan tetapi apabila batas itu dilampaui, sumber daya akan mengalami kerusakan dan fungsinya sebagai faktor produksi dan konsumsi atau sarana pelayanan akan mengalami gangguan.
Allah SWT mengingatkan manusa untuk mengambil sebagian saja dari rizki-Nya. Hal itu berarti akan tersedia cukup waktu bagi tumbuhan untuk mengembalikan lagi kesuburannya, misalnya ikan laut memiliki cukup waktu untuk berkembang biak atau t anah lahan pertanian memiliki cukup waktu untuk kembali produktif.
Oleh karena itu, pembangunan lingkungan hidup pada hakekatnya untuk pengubahan lingkungan hidup, yakni mengurangi resiko lingkungan dan atau memperbesar manfaat lingkungan. Sehingga manusia mempunyai tanggung jawab untuk memelihara dan memakmurkan alam sekitarnya. Allah SWT berfirman :
“Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata : “Hai kaumku, sembalah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) dan lagi memperkenankan (do’a hamba-Nya).” (QS. 11 : 61)
Upaya memelihara dan memakmurkan tersebut bertujuan untuk melestarikan daya dukung lingkungan yang dapat menopang secara berkelanjutan pertumbuhan dan perkembangan yang kita usahakan dalam pembangunan. Walaupun lingkungan berubah, kita usahakan agar tetap pada kondisi yang mampu untuk menopang secara terus-menerus pertumbuhan dan perkembangan, sehingga kelangsungan hidup kita dan anak cucu kita dapat terjamin pada tingkat mutu hidup yang makin baik. Konsep pembangunan ini lebih terkenal dengan pembangunan lingkungan berkelanjutan.
Tujuan tersebut dapat dicapai apabila manusia tidak membuat kerusakan di bumi, sebagaimana firman Allah SWT :
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut dan harapan. Sesungguhnya Allah amat dekat kepada orang yang berbuat baik.” (QS. 7 : 56)
Berkaitan dengan pemeliharaan lingkungan, Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita tentang beberapa hal, diantaranya agar melakukan penghijauan, melestarikan kekayaan hewani dan hayati, dan lain sebagainya.
“Barangsiapa yang memotong pohon Sidrah maka Allah akan meluruskan kepalanya tepat ke dalam neraka.” (HR. Abu Daud dalam Sunannya) “Barangsiapa di anatara orang Islam yang menanam tanaman maka hasil tanamannya yang dimakan akan menjadi sedekahnya, dan hasil tanaman yang dicuri akan menjadi sedekah. Dan barangsiapa yang merusak tanamannya, maka akan menjadi sedekahnya sampai hari Kiamat.” (HR. Muslim)
”Setiap orang yang membunuh burung pipit atau binatang yang lebih besar dari burung pipit tanpa ada kepentingan yang jelas, dia akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah.” Ditanyakan kepada Nabi : “Wahai Rasulullah, apa kepentingan itu ?” Rasulullah menjawab : “Apabila burung itu disembelih untuk dimakan, dan tidak memotong kepalanya kemudian dilempar begitu saja.”
Rabu, 17 Desember 2008
‘Zero School’ Ilmu Hubungan Internasional (tanggapan tentang Djatinangor School)
Kelompok Fasisme Nazi dibawah pimpinan Hitler pernah mengklaim bahwa bangsa Arya adalah bangsa paling sempurna. Dengan segala bentuk argumen yang dibangun, bangsa-bangsa lain di muka bumi layak untuk diperbudak dan tunduk terhadap Arya. Doctrin Fuhrer Principle semakin memperparah ganasnya fasisme di tahun-tahun tersebut hingga meletusnya Perang Dunia II.
Pemerintah kekaisaran Jepang pun sama. Sang Kaisar mengajarkan doktrin bahwa Jepang merupakan kiblat dari bumi. Hal ini meski dilatarbelakangi oleh sentimen terhadap ajaran Islam yang mewajibkan seorang muslim untuk sholat menghadap Kiblat yakni Ka’bah di Mekkah Arab Saudi. Wajar saja, doktrin Nippon cahaya Asia pernah kita dengar dalam sejarah invasi Jepang ke negara-negara
Tidak hanya bangsa Arya maupun Jepang yang melakukan hal serupa. Namun juga masyarakat Kuno Jawa pun beranggapan sama. Mereka yakin bahwa pusat dari bumi berada di tanah Djawa (ejaan lama). Dengan begitu, pulau Jawa berikut orang Jawa sangat layak menjadi pemimpin bagi bangsa maupun suku lain. Majapahit merupakan bukti kongkrit betapa sebuah kerajaan di Jawa hendak melakukan perluasaan kekuasaan alias invasi ke kawasan wilayah lain di muka bumi.
Obsesi China Kaisar menguasai dunia, Jengis Khan dari Mongol, Eropa di abad 17-19 an, dan masih banyak lagi. Secara sederhana, sejarah perang selalu terkait dengan sentiment geografis. Perang yang mengakibatkan pertumpahan darah dan menelas biaya waktu, tenaga, bahkan korban jiwa jelas tidak layak dibandingkan dengan ‘iming-iming’ bahwa Cina berkuasa, Mongol berkuasa, Jawa berkuasa, dan sebagainya. Trauma akan invasi dengan cara perang menjadi trauma kemanusiaan tersendiri sejarah bumi ini masih berputar.
Dalam konteks berbeda, wacana phobia invasi semakin menjalar. Tidak hanya dalam bentuk imperialism fisik. Namun juga perihal cara berpikir dan bersikap. Menjelang reformasi 1998 dan keterbukaan informasi serta media, wacana kritis bermunculan di dalam negeri
Wacana mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional sendiri tidak luput dari wabah ‘kritis’ tersebut.
Munculnya reaksi kritis atas beberapa warna pemikiran Eropa maupun Amerika tidaklah salah. Bahkan justru harus didukung sebagai ekspresi keingintahuan intellectual akademisi. Baik pretense untuk menerapkan filsafat skeptic dalam ilmu pengetahuan, melakukan verifikasi sebuah pemikiran, hingga falsifikasinya Popper tidak masalah. Namun bukan berarti didorong oleh semata dorongan intellectual berdasarkan geografi. Semoga bukan karena phobia dengan kata-kata
Semangat untuk membentuk sentrum-sentrum berpikir harus terus disemarakkan. Akan tetapi bukan karena kita berasal dari Jawa,
Imam Syafii menekankan bahwa kita harus mengambil dan mengikuti hal-hal baik dari para pendahulu. Namun kita juga harus mengadopsi dan melakukan transformasi untuk hal-hal yang lebih bernilai hari ini. Keterbukaan kritis merupakan ekspresi bahwa kita masih menerima apa yang baik. Ambillah hikmah dari mana saja datangnya, kata Imam Ali karramallahu wajhahu. Selayaknya kita belajar dari yang telah baik. Dan menemukan hal-hal yang lebih bernilai dan baru. Bukan untuk menggantikan secara keseluruhan. Apalagi sekedar dimotivasi oleh sentiment berbau pemikiran Barat.
It’s not to be ‘our own city school of thoughts’. But it is preferably to be ‘
Wallahu A’lam

