Jumat, 09 Januari 2009

Nama Pengirim Tugas Yang Sudah Diterima

Nama

Npm

Judul

Wini Rachmayuni

170211070025

PENEBANGAN HUTAN GLOBAL

Puji Rama

170211070009

Penggunaan Sumber Daya Alam untuk Kepentingan Hidup Manusia

EVALINA CHRISTINE SIMATUPANG

170211070001

Global-Globalisasi-Global WarmingMerupakan Sebuah Tanda dan Makna

YUNITA SARI

170211080005

PEMBALAKAN LIAR HUTAN-HUTAN DI INDONESIA

NANDISA PUSPITA UTARI

170211080022

DAMPAK BURUK FASTFOOD

Vera Yudiarti Juwita

170211070007

Diajukan untuk tugas Filsafat Ilmu

LISA HANDAYANI

170211070018

DAMPAK NUKLIR TERHADAP LINGKUNGAN

MHD ALHAFIZ

170211070019

SISTEM DAUR ULANG SAMPAH DAN AKIBAT DARI SAMPAH

AMIEN PRAHADIAN

170211070008

DAMPAK BURUK FAST FOOD

R. DZIKRY ALI

170211070015

Global Warming sebagai subjek ENVIRONTMENTALISME

dalam kaitannya dengan GLOBALISASI

NISA ANISA

170211070002

“Peningkatan Budaya Konsumerisme Pembelian Kendaran Bermotor Akibat Pengaruh Globalisasi Ekonomi yang Memberikan Influence Negatif terhadap

Lingkungan dan Kesehatan”

Agustin Indri Priyanti

170211080007

”DAMPAK TERORISME TERHADAP LINGKUNGAN GLOBAL”

Feni Andriani Rianti

170211080013

INDUSTRI TELEVISI DAN DAMPAKNYA TERHADAP MUTU PENDIDIKAN

ASTRI SHERLEY KHARISMA

170211080003

DAMPAK KEMAJUAN TEKNOLOGI TERHADAP ASPEK LINGKUNGAN

WAHYU SUDARMADI

170211080012

DAMPAK KEMAJUAN TEKNOLOGI TERHADAP ASPEK LINGKUNGAN

Mada Prastya Pahlawan Mulya

170211080017

Penggunaan Sumber Daya Alam Untuk Kepentingan Hidup Manusia

Sumber Daya Alam Minyak di Siberia dan kondisi Minyak di Indonesia

ROMAIDA LIDIA

170211080002

CREDIT NO WAY

TITA FARIDA

170211080016

DI BALIK REKLAMASI SINGAPURA

Dini Kristiyanti

170211070006

PEMBALAKAN LIAR

HUTAN-HUTAN DI INDONESIA

Dicky Abdillah

170211070017

BAHAYA PELASTIK TERHADAP LINGKUNAN DAN PENGGANTINYA

ISNA DZIKRIYAH ZAHRA

170211070023

Dinamika Terorisme dan Pengaruhnya Terhadap Lingkungan Global

Kellis Mulya Nugraha

170211080020

Bahaya plastik bagi lingkungan dan solusi penggantinya

Deden Barqi Hakim

170211080024

“DAMPAK GLOBALISASI SERTA PERANAN NILAI KEARIFAN LOKAL TERHADAP EKSISTENSI KELESTARIAN TERUMBU KARANG”

Kalvin Marulitua

170211080021

DAMPAK ROKOK TERHADAP LINGKUNGAN

Merry Joan E. S

170211070004

Perburuan Bulu Binatang Demi Kepentingan Industri Fashion

ADISTY PUTRI JAYANTHI

170211080004

DIBALIK SUKSESNYA INDUSTRI TELEVISI

SEBAGAI MEDIA INFORMASI

ERZICO

170211080019

PEMBURUAN BULU BINATANG DEMI MEWUJUDKAN KEPENTINGAN INDUSTRY FASHION

MIRA KHARISMA AYU

NPM. 170211080011

Global-Globalisasi-Global Warming

Merupakan Sebuah Tanda dan Makna

Dwi Rahayu Utami

170211080014

Dampak dan Penyebab Kebakaran Hutan Di Indonesia

Julianti Panjaitan

(170211080015)

“PLASTIK BAGI LINGKUNGAN DAN SOLUSI PENGGANTINYA”

Jumat, 19 Desember 2008

Fiqh ekologi: fiqih lingkungan hidup dalam al-quran dan as-sunnah (I)

Lingkungan merupakan sebuah kesatuan utuh dimana masing-masing komponennya memiliki peran penting untuk menggerakan rantai kehidupan agar berjalan seimbang dan teratur. Lingkungan terdiri atas unsur biotik (manusia, hewan, dan tumbuhan) dan abiotik (udara, air, tanah, iklim dan lainnya). Allah SWT berfirman :

Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakannya pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezeki kepadanya.” (QS. 15 : 19-20)

Keseimbangan alam telah di ciptakan oleh Allah SWT dengan presisi yang sempurna kedalam ukuran-ukuran alam. Maka menjadi penting bagi manusia sebagai ”khalifatullah” untuk menjaga keberagamannya, kelestariannya serta keseimbangannya. Dalam hal ini, manusia memang memiliki peran penting, namun Allah mengingatkan manusia bahwa manusia bukan sekali-kali pemberi rezeki bagi lingkungan hidpnnya melainkan Allah SWT. Artinya, kita benar-benar diingatkan untuk tidak mengambil pendekatan antroposentris dimana fikiran manusia seakan-akan menjadi pusat segala ukuran dan manusialah yang menentukan nilai-nilai lingkungan hidupnya. Dalam konteks ini, pendekatan theosentris-lah yang diambil, dimana kebenaran-kebenaran nilai-nilai bagi mahkluknya beraslal dari tuhan yang dalam islam dapat di gali melalui teks-teks al-quran dan as-sunnah.

Lingkungan hidup sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan manusia guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Allah SWT berfirman :

Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya, dan makanlah sebagian dari rizki-Nya. Dan hanya kepada-Nya lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. 67 : 15)

Akan tetapi, lingkungan hidup sebagai sumber daya mempunyai regenerasi dan asimilasi yang terbatas. Selama eksploitasi atau penggunaannya di bawah batas daya regenerasi atau asimilasi, maka sumber daya terbaharui dapat digunakan secara lestari. Akan tetapi apabila batas itu dilampaui, sumber daya akan mengalami kerusakan dan fungsinya sebagai faktor produksi dan konsumsi atau sarana pelayanan akan mengalami gangguan.

Allah SWT mengingatkan manusa untuk mengambil sebagian saja dari rizki-Nya. Hal itu berarti akan tersedia cukup waktu bagi tumbuhan untuk mengembalikan lagi kesuburannya, misalnya ikan laut memiliki cukup waktu untuk berkembang biak atau t anah lahan pertanian memiliki cukup waktu untuk kembali produktif.

Oleh karena itu, pembangunan lingkungan hidup pada hakekatnya untuk pengubahan lingkungan hidup, yakni mengurangi resiko lingkungan dan atau memperbesar manfaat lingkungan. Sehingga manusia mempunyai tanggung jawab untuk memelihara dan memakmurkan alam sekitarnya. Allah SWT berfirman :

Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata : “Hai kaumku, sembalah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) dan lagi memperkenankan (do’a hamba-Nya).” (QS. 11 : 61)

Upaya memelihara dan memakmurkan tersebut bertujuan untuk melestarikan daya dukung lingkungan yang dapat menopang secara berkelanjutan pertumbuhan dan perkembangan yang kita usahakan dalam pembangunan. Walaupun lingkungan berubah, kita usahakan agar tetap pada kondisi yang mampu untuk menopang secara terus-menerus pertumbuhan dan perkembangan, sehingga kelangsungan hidup kita dan anak cucu kita dapat terjamin pada tingkat mutu hidup yang makin baik. Konsep pembangunan ini lebih terkenal dengan pembangunan lingkungan berkelanjutan.

Tujuan tersebut dapat dicapai apabila manusia tidak membuat kerusakan di bumi, sebagaimana firman Allah SWT :

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut dan harapan. Sesungguhnya Allah amat dekat kepada orang yang berbuat baik.” (QS. 7 : 56)

Berkaitan dengan pemeliharaan lingkungan, Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita tentang beberapa hal, diantaranya agar melakukan penghijauan, melestarikan kekayaan hewani dan hayati, dan lain sebagainya.

“Barangsiapa yang memotong pohon Sidrah maka Allah akan meluruskan kepalanya tepat ke dalam neraka.” (HR. Abu Daud dalam Sunannya) “Barangsiapa di anatara orang Islam yang menanam tanaman maka hasil tanamannya yang dimakan akan menjadi sedekahnya, dan hasil tanaman yang dicuri akan menjadi sedekah. Dan barangsiapa yang merusak tanamannya, maka akan menjadi sedekahnya sampai hari Kiamat.” (HR. Muslim)

”Setiap orang yang membunuh burung pipit atau binatang yang lebih besar dari burung pipit tanpa ada kepentingan yang jelas, dia akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah.” Ditanyakan kepada Nabi : “Wahai Rasulullah, apa kepentingan itu ?” Rasulullah menjawab : “Apabila burung itu disembelih untuk dimakan, dan tidak memotong kepalanya kemudian dilempar begitu saja.”

Rabu, 17 Desember 2008

‘Zero School’ Ilmu Hubungan Internasional (tanggapan tentang Djatinangor School)

By interdisciplinary

Kelompok Fasisme Nazi dibawah pimpinan Hitler pernah mengklaim bahwa bangsa Arya adalah bangsa paling sempurna. Dengan segala bentuk argumen yang dibangun, bangsa-bangsa lain di muka bumi layak untuk diperbudak dan tunduk terhadap Arya. Doctrin Fuhrer Principle semakin memperparah ganasnya fasisme di tahun-tahun tersebut hingga meletusnya Perang Dunia II.

Pemerintah kekaisaran Jepang pun sama. Sang Kaisar mengajarkan doktrin bahwa Jepang merupakan kiblat dari bumi. Hal ini meski dilatarbelakangi oleh sentimen terhadap ajaran Islam yang mewajibkan seorang muslim untuk sholat menghadap Kiblat yakni Ka’bah di Mekkah Arab Saudi. Wajar saja, doktrin Nippon cahaya Asia pernah kita dengar dalam sejarah invasi Jepang ke negara-negara Asia menjelang perang Dunia II.

Tidak hanya bangsa Arya maupun Jepang yang melakukan hal serupa. Namun juga masyarakat Kuno Jawa pun beranggapan sama. Mereka yakin bahwa pusat dari bumi berada di tanah Djawa (ejaan lama). Dengan begitu, pulau Jawa berikut orang Jawa sangat layak menjadi pemimpin bagi bangsa maupun suku lain. Majapahit merupakan bukti kongkrit betapa sebuah kerajaan di Jawa hendak melakukan perluasaan kekuasaan alias invasi ke kawasan wilayah lain di muka bumi.

Obsesi China Kaisar menguasai dunia, Jengis Khan dari Mongol, Eropa di abad 17-19 an, dan masih banyak lagi. Secara sederhana, sejarah perang selalu terkait dengan sentiment geografis. Perang yang mengakibatkan pertumpahan darah dan menelas biaya waktu, tenaga, bahkan korban jiwa jelas tidak layak dibandingkan dengan ‘iming-iming’ bahwa Cina berkuasa, Mongol berkuasa, Jawa berkuasa, dan sebagainya. Trauma akan invasi dengan cara perang menjadi trauma kemanusiaan tersendiri sejarah bumi ini masih berputar.

Dalam konteks berbeda, wacana phobia invasi semakin menjalar. Tidak hanya dalam bentuk imperialism fisik. Namun juga perihal cara berpikir dan bersikap. Menjelang reformasi 1998 dan keterbukaan informasi serta media, wacana kritis bermunculan di dalam negeri Indonesia. Wabah untuk ‘kritis’ ini menyebar di segenap sendi-sendi pemerintahan dan kemanusiaan. Entah apakah mereka yang menamakan dan dinamakan dirinya ‘kritis’ itu paham dan sadar akan tujuan yang hendak dicapai. Wallahua’lam.

Wacana mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional sendiri tidak luput dari wabah ‘kritis’ tersebut. Munculnya Frankfurt School yang membangun paradigm berpikir kritis, merupakan pakaramula (bahasa daerah Makassar: penyebab) secara tidak langsung. Kemudian disusul dengan munculnya warna pemikiran para akademisi Hubungan Internasional dari Inggris yang kemudian membentuk warna perspektif baru. Enlish School alias madzhab Inggris.

Munculnya reaksi kritis atas beberapa warna pemikiran Eropa maupun Amerika tidaklah salah. Bahkan justru harus didukung sebagai ekspresi keingintahuan intellectual akademisi. Baik pretense untuk menerapkan filsafat skeptic dalam ilmu pengetahuan, melakukan verifikasi sebuah pemikiran, hingga falsifikasinya Popper tidak masalah. Namun bukan berarti didorong oleh semata dorongan intellectual berdasarkan geografi. Semoga bukan karena phobia dengan kata-kata English School, American School, dll yang berbau abab Londo (bau mulut orang penjajah). Jangan sampai kita mengulang dosa para pendahulu.

Semangat untuk membentuk sentrum-sentrum berpikir harus terus disemarakkan. Akan tetapi bukan karena kita berasal dari Jawa, Jakarta, Djatinangor, maupun Makassar. Tapi lebih kepada ekspresi dan kepekaan intelektual seoran akademisi untuk melihat sejauh relevansi sebuah konsep pemikiran hingga memperoleh bentuk kontekstualisasi dalam dunia praktis. Euphoria region schools tersebut akan lebih berarti jika diganti dengan sebuah semangat keterbukaan kritis dalam berpikir dan bertindak.

Imam Syafii menekankan bahwa kita harus mengambil dan mengikuti hal-hal baik dari para pendahulu. Namun kita juga harus mengadopsi dan melakukan transformasi untuk hal-hal yang lebih bernilai hari ini. Keterbukaan kritis merupakan ekspresi bahwa kita masih menerima apa yang baik. Ambillah hikmah dari mana saja datangnya, kata Imam Ali karramallahu wajhahu. Selayaknya kita belajar dari yang telah baik. Dan menemukan hal-hal yang lebih bernilai dan baru. Bukan untuk menggantikan secara keseluruhan. Apalagi sekedar dimotivasi oleh sentiment berbau pemikiran Barat.

It’s not to be ‘our own city school of thoughts’. But it is preferably to be ‘Zero School of thoughts’. Let the critical be critical.

Wallahu A’lam